Quotes of the day

"kebahagian tergantung pada apa yang dapat Anda berikan, bukan pada apa yang anda peroleh"--Mohandas Gandhi

"Do what you love, Love what you do, and make what you do for the good of the many, for the happines for the many,..."
"Lima tahun dari sekarang anda akan tetap sama seperti hari ini, kecuali 2 hal : buku yang Anda baca dan orang-orang disekitar Anda " --Charles Jones

Senin, 18 Juni 2012

UAS TA 2011/2012 SEMESTER GENAP

5 komentar:

  1. Kekuatan pedagogi ilmiah adalah membuat pembelajaran semakin praktis dilihat dari prisma konsep teoritis. Pedagogi ilmiah juga dibangun dari kajian emprik selama proses belajar dan mengajar (Moore,2000). Menurut pemahaman saya, pedagogi ilmiah memberikan suatu pedoman (dalam hal ini teori) pada pengajar dalam memberikan materi dalam mengajar. Jika seorang guru tidak tahu bagaimana konsep mengajar yang baik, apa materi yang diajarkannya, serta bagaimana cara yang efektif untuk berinteraksi dengan peserta didik, maka proses belajar mengajar didalam kelas tidak akan berjalan dengan baik. Begitu pula dalam proses mikro teaching kelompok.

    Dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan proses micro teaching kelompok, teori memegang peranan yang berarti pula. Yang pertama, kelompok awalnya mencari tahu mengenai teori materi yang akan diajarkan. Akhirnya kelompok mengambil teori yang berkaitan dengan go green, yang kemudian berdasarkan dasar teori tersebut kami memilih mengajarkan prakarya dari barang bekas.
    Selanjutnya, dalam proses pelaksaan micro teaching teori juga memegang peranan yang berarti. Dengan adanya pemahaman akan teori-teori yang telah kami pelajari, kelompok memakai panduan tersebut dalam belajar dan berinteraksi dengan anak-anak.

    Oleh karena itu, dalam micro teaching teori memang merupakan hal yang praktis yang menjadi penuntun kelompok. Tanpa adanya pengetahuan mengenai teori, kelompok mungkin akan kebingungan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan anak-anak dan materi apa yang diajarkan.
    Misalnya, melalui teori yang sudah dipelajari, kelompok tahu bahwa mengajar adalah ilmu dan mengajar adalah seni. Dalam mengajar, kami memakai panduan ilmu, yaitu kami harus merencanakan dengan matang bahan-bahan apa yang diajarkan, sistematika cara pengajaran dan hal-hal yang berkaitan dengan rencana pengajaran dikelas. Namun, ada waktunya dimana kami juga perlu menggunakan intuisi, improvisasi dan ekspresi. Dalam hal ini, mengajar adalah seni. Ketika ada sesuatu yang diluar rencana, kami harus segera bertindak mengunakan improvisasi. Misalnya ketika ada anak yang berebut hiasan. Kami pun harus melerai dan membujuk mereka, menggunakan improvisasi, karena kami tidak mempersiapkan sebelumnya bagaimana jika ada anak yang bertengkar.

    BalasHapus
  2. Dari pertanyaan yang diajukan, sebagian besar memiliki relevansi dengan micro teaching yang telah kelompok lakukan.

    1. Penilaian kebutuhan : Materi belajar apa yang dibutuhkan?
    Pada awal diskusi perencanaan konsep micro teaching, kelompok mengambil tema go green dan mengajarkan prakarya dari barang bekas. Kemudian kelompok melakukan observasi ke sekolah dan melihat apakah hal tersebut cocok diajarkan pada anak-anak atau adakah hal lain lagi yang bisa diajarkan. Setelah kelompok melakukan observasi, kelompok mendapati bahwa materi belajar mengenai go green belum diajarkan sebelumnya. Melihat hal itu, kelompok melihat pengajaran dan pengenalan prakarya barang bekas memang merupakan hal yang dibutuhkan oleh anak-anak. Hal ini dikarenakan pentingnya menanamkan kepedulian akan lingkungan pada anak-anak sejak dini sehingga mereka bisa ikut menjaga lingkungan.
    Alasan lainnya kelompok memilih materi ini, karena secara umum materi seperti pengenalan angka dan huruf, berhitung, membaca, bernyanyi, dan lainnya kebanyakan sudah diajarkan oleh guru mereka.

    2. Pertumbuhan profesional : Bagaimana cara meningkatkan mutu pengajaran di kelas?
    Dalam poin ini, kelompok mungkin kurang menekankan pada meningkatkan mutu pengajaran dikelas. Hal ini dikarenakan ini adalah pengalaman pertama kelompok dan hanya sekali melakukan micro teaching.

    3. Budaya kelas : Bagaimana cara menumbuhkan budaya kelas untuk belajar?
    Dalam meningkatkan budaya kelas untuk belajar, kelompok sengaja memilih tema dan materi pembelajaran serta bahan-bahan prakarya yang menarik untuk membuat anak-anak tertarik untuk belajar. Pertama, dalam memilih materi pembelajaran, kelompok memilih tema go green dan mengajarkan prakarya. Kelompok memilih tema go green dan menyampaikan pembukaan mengenai go green dengan bahasa yang menarik dan mudah dimengerti oleh anak. Kemudian kelompok mengajarkan prakarya yang dimana hal ini bertujuan selain untuk mengenalkan bahwa barang bekas bisa didaur ulang, anak-anak juga lebih senang belajar sambil berkarya dan bermain daripada hanya duduk diam dan mendengarkan. Dengan mengajak anak turut aktif untuk mengerjakan prakarya, diharapkan dapat menumbuhkan budaya anak untuk belajar. Selain itu, kelompok memilih bahan-bahan prakarya seperti gambar-gambar yang lucu dari koran bekas dan kalender agar anak-anak tertarik untuk ikut berpartisipasi dalam belajar membuat prakarya dari barang bekas.

    4. Strategi : Bagaimana guru mengajar untuk memaksimalkan hasil?
    Untuk memaksimalkan hasil dalam mengajar, kelompok menggunakan strategi membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdapat 1-2 pengajar dengan 3-4 orang anak. Jadi, setiap pengajar membantu 1-2 orang anak untuk mengajarkan dan membuat prakarya dari barang bekas. Dengan setiap orang yang hanya berfokus pada 1 – 2 anak, maka diharapkan apa yang diajarkan juga akan lebih maksimal dan dapat tersampaikan pada setiap anak dengan baik.

    (lanjut di komen bawah)

    BalasHapus
  3. 5. Pengelolaan sumber daya kelas : Bagaimana guru membuat media pembelajaran dan apa kegunaannya dalam pembelajaran?
    Untuk media pembelajaran, dalam proses micro teaching kelompok hanya mempersiapkan barang-barang bekas seperti botol aqua kosong dan kertas-kertas bekas. Melalui barang-barang itulah anak-anak membuat suatu prakarya.

    6. Pemecahan masalah : Apa yang bisa salah dalam pengajaran dan bagaimana cara mengatasinya?
    Untuk hal yang bisa salah dalam pengajaran mungkin adalah bagaimana interaksi setiap pengajar dengan anak. Seorang pengajar bisa saja hanya terfokus pada 1 anak dan melupakan anak lain yang menjadi perhatiannya. Oleh karena itu, kelompok juga saling mengingatkan agar kami memperhatikan semua anak.

    7. Orkestrasi : Bagaimana guru mengatur semua aspek yang berbeda dari pedagogi?
    Dalam melakukan micro teaching, bisa dikatakan bahwa kelompok tidak mencoba memperhatikan hal ini.

    8. Penggunaan TIK : Bagaimana aplikasi TIK dalam pembelajaran yang memenuhi kriteria pedagogi?
    Dalam micro teaching ini kelompok tidak mengenalkan atau mengaplikasikan TIK dalam proses pengajaran dengan anak-anak. Namun, dalam mencari pengetahuan, teori-teori, serta prakarya yang diajarkan, tidak dipungkiri bahwa TIK berperan penting. Kelompok memanfaatkan fasilitas internet dalam memudahkan proses perencanaan micro teaching kami.

    BalasHapus
  4. 3. Sehubungan dengan jawaban pada soal nomor dua, coba anda jelaskan peran dari "guru memiliki tugas tambahan untuk mendorong, memfasilitasi dan merangsang munculnya proses, membantu meyakinkan bahwa hal itu berkembang dalam arah yang menarik dan produktif bagi siswa (halaman 121). Apakah hal tersebut terjadi pada anda saat menjalankan micro teaching? coba jelaskan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "guru memiliki tugas tambahan untuk mendorong, memfasilitasi dan merangsang munculnya proses, membantu meyakinkan bahwa hal itu berkembang dalam arah yang menarik dan produktif bagi siswa”. Jadi, seorang guru bukan hanya saja mentransfer ilmu semata pada anak didik, melainkan ada hal-hal lain yang diberikan kepada peserta didik yang bertujuan agar mereka bisa lebih aktif dan berkembang, serta tidak hanya semata menerima begitu saja ilmu yang telah didapat tanpa memahaminya atau mempraktekkannya.
      Seperti yang telah disebutkan pada jawaban nomor 2 diatas, “kelompok sengaja memilih tema dan materi pembelajaran serta bahan-bahan prakarya yang menarik untuk membuat anak-anak tertarik untuk belajar”. Sehubungan dengan proses micro teaching yang kelompok lakukan, peran kelompok disini adalah sebagai fasilitator ataupun pengajar. Tujuan utama kelompok memang adalah memperkenalkan go green pada anak-anak melalui prakarya barang-barang bekas. Namun, selain tujuan utama tersebut, di sisi lain kelompok juga sambil mengajarkan prakarya melalui barang-barang yang mungkin belum pernah anak-anak pakai sebelumnya dalam mengerjakan prakarya. Dengan mengajarkan prakarya tersebutlah, kelompok mendorong dan merangsang anak-anak untuk berkreativitas, serta memfasilitasi anak-anak melalui praktek langsung mengerjakan prakarya tersebut. Selain itu, kelompok juga meyakini bahwa dengan micro teaching ini, kelompok telah mengajarkan sesuatu yang baru pada anak-anak sehingga nantinya mereka bisa mengembangkan sendiri serta produktif mengerjakan apa yang telah kami sampaikan pada mereka. Misalnya saja, kelompok mengatakan bahwa nantinya setelah pulang ke rumah, adik-adik bisa memakai barang-barang bekas yang bisa dipakai lagi untuk dijadikan prakarya seperti ini. Melalui micro teaching ini kelompok merangsang anak-anak agar bisa menjaga lingkungan dengan tidak membuang barang-barang yang masih bisa dipakai sambil berkreasi menggunakan barang bekas tersebut. Jadi, saya rasa, kelompok telah menjalankan tugas tambahan untuk mendorong, memfasilitasi, dan merangsang tersebut.

      Hapus