Pernahkah Anda melihat suatu iklan yang mungkin pada awalnya tidak Anda sukai, kemudian beberapa minggu kemudian Anda menjadi menyukai menonton iklan tersebut? Ah, atau contoh yang lebih sering adalah pasti Anda pernah mengalami hal ini. Anda sangat tidak menyukai mendengar satu lagu, lalu karena terlalu sering mendengar lagu tersebut kemanapun Anda pergi, lama-lama Anda menjadi suka mendengar lagu tersebut dan bahkan bisa menyanyikannya - katakanlah lagu Alamat Palsu yang baru ngetrend belakangan ini.
Nah, tahukah Anda bahwa disini telah terjadi yang namanya proses learning atau belajar. Nah, berdasarkan situasinya, learning bisa dibedakan menjadi high-involvement learning dan low-involvement learning. Proses yang terjadi seperti diatas tersebut dikatakan low-involvement learning.
Situasi low-involvement learning (kalau diterjemahkan artinya keterlibatan yang rendah dalam belajar) adalah keadaan dimana seseorang hanya sedikit atau tidak termotivasi untuk memproses atau mempelajari materi. Misalnya dalam mendengar lagu tersebut, seseorang pada awalnya tidak termotivasi untuk mempelajari lagunya. Namun karena terlalu sering mendengar, akhirnya orang tersebut secara tidak sadar telah melakukan proses learning dalam situasi keterlibatan yang rendah. Sebaliknya, situasi high-involvement learning adalah keadaan dimana seseorang termotivasi untuk memproses atau mempelajari materi. Misalnya, seseorang membaca panduan membeli laptop sebelum membeli komputer mungkin akan sangat termotivasi untuk belajar materi yang relevan yang berhubungan dengan berbagai merek komputer.
Ringkasnya, dasar teori tersebut telah menjadi salah satu aspek krusial dalam pembuatan iklan. Jika kita perhatikan secara seksama, banyak iklan yang memasukan unsur lagu dalam penayangannya di televisi. Sering ketika suatu lagu telah populer, orang menggunakan lagu tersebut dalam iklannya. Misalnya saja iklan teh Rio dengan lagu Smash. Ataupun, hampir pada setiap iklan selalu ada unsur musiknya. Tentunya hal ini bertujuan agar para penonton yang kebanyakan tidak akan menonton iklan saat jeda acara, agar belajar dalam situasi low involvement. Disini, ketika kita secara tidak sadar terpapar (atau terekspos) secara terus menerus oleh iklan tersebut, akhirnya kita akan mengasosiasikan lagu yang menarik dalam iklan tersebut dengan produk yang mereka iklankan.
Jadi, dalam istilah psikologi, hal ini dinamakan conditioning atau pengkondisian, khususnya classical conditioning. Classical conditioning adalah usaha untuk membuat asosiasi antara stimulus (merek) dengan beberapa respon (perilaku atau perasaan). Prosedur classical conditioning akan memasangkan merek yang tidak terkenal berulang kali dengan beberapa stimulus lain yang akan secara otomatis akan mendatangkan perasaan atau emosi positif, seperti musik yang terkenal di iklan. Tujuannya adalah, setelah memasangkan nama mereka dan musik berulang kali, ketika hanya mendengar nama merek saja akan mendatangkan perasaan positif yang dihasilkan dari musik. Proses dari menggunakan hubungan yang dibangun antara satu stimulus (musik) dengan respon (perasaan nyaman) untuk membawanya dengan learning atau belajar dari respon yang sama (perasaan nyaman) kepada stimulus yang berbeda (merek) inilah yang disebut classical conditioning.
Jadi, penting untuk kita ketahui adalah, dengan adanya teori ini, memang semakin membantu proses marketing. Iklan ini memang hanyalah salah satu konsep aplikasi dari teori learning. Yang penting bagi konsumen adalah, ketika kita menyadari adanya proses pengkondisian dalam menentukan attitude atau sikap kita terhadap suatu produk, sebaiknya kita lebih berhati-hati dan berpikir kritis mengenai sikap kita terhadap produk tersebut. Jangan hanya karena iklannya yang menarik perhatian kita, membuat kita menjadi mudah terpengaruh akan penggunaan suatu produk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar