Setiap orang, pasti pernah mendengar satu kata ini. INTELEGENSI atau bahasa inggrisnya INTELLIGENCE. Apa sih yang terlintas dibenak kalian pertama kali mendengar kata intelegensi? Pastinya rata-rata orang akan mengaitkannya dengan kecerdasan. Yah, arti sempitnya sih memang kecerdasan, tapi sebenarnya intelegensi itu sendiri mempunyai pengertian yang lebih luas.
Saya sendiri masih ingat ketika masih zaman SMA 1 dulu, ketika mau naik ke kelas 2 SMA, saya dan beberapa orang teman saya kebingungan mau masuk jurusan IPA atau IPS. Alhasil kami menanyakan kepada guru kami, bagaimana solusinya, dan guru kami menyarankan kami tes IQ saja. Lalu kami pun ditunjuk ke seorang psikolog yang katanya bisa membantu kami menemukan jurusan yang pas bagi kami. Lalu dimulailah perjuangan kami untuk tes IQ demi menemukan jurusan yang cocok bagi kami. Setelah melalui berbagai rintangan mulai dari mencari tempat tes IQ yang lumayan jauh dari rumah kami dan terpencil pula, perjuangan melewati tes yang benar-benar menguras emosi dan tenaga -dari jam 7 pagi sampai 3 sore-, hingga deg-degan menunggu hasil tesnya keluar. Dan alhasil, hasil yang keluar benar-benar membuat saya gondok. =.=" karena jawaban yang saya tunggu-tunggu tentang jurusan apa yang cocok bagi saya adalah seperti ini...
Ketika saya melihat hasilnya, saya tertawa sejenak karena benar-benar tidak seperti yang saya harapkan. Tapi akhirnya saya dapat tidak menyesal juga koq, karena dari hasil yang keluar, saya bisa mengetahui IQ, EQ, dan aspek psikologis lainnya yang bisa saya gunakan sebagai media evaluasi diri.
Lalu sebenarnya apa sih tes intelegensi itu? Apakah benar tes intelegensi itu benar-benar akurat? Dan kemudian kenapa intelegensi setiap orang bisa berbeda? Apa sih yang membedakannya?
Tes Intelegensi / IQ (Intelligence Quotient)
Terkadang orang sering mengsalahartikan intelegensi dengan IQ. Ketika ditanya, intelegensimu berapa?, sebenarnya maksudnya adalah skor IQmu berapa?. Perlu kita pahami disini, Intelegensi adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.sedangkan IQ adalah skor yang diperoleh dari suatu skala kecerdasan.
Alfred Binet, mengembangkan suatu konsep yang dikenal dengan Mental Age (MA) dan Chronological Age (CA). Mental age merupakan perkembangan mental seseorang dibandingkan dengan orang lain, sedangkan chronological age merupakan usia seseorang dari hari kelahirannya. Anak yang pintar akan memiliki mental age yang lebih tinggi dari pada chronological agenya. Menurutnya IQ-Intelligent Quotient- merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mengukur kecerdasan seseorang. IQ merupakan pembagian antara usia mental seseorang dengan usia kronologisnya.
IQ = (MA/CA) X 100
Bila MA seseorang diatas CA nya, maka IQnya akan di atas 100, dan sebaliknya. Apabila MA dengan CA nya setara, maka IQ orang tersebut adalah 100. Jadi apabila kita ingin mengetahui IQ kita, maka berdasarkan teori binet tersebut, kita bisa mengetahui IQ kita dengan mudah. Namun, pengukuran tersebut menurut saya tidaklah akurat. IQ seseorang tentu saja tidak hanya berdasarkan 2 faktor tersebut, masih banyak faktor lain yang berpengaruh tentunya.
Tes Binet telah mengalami revisi beberapa kali seiring dengan kemajuan dalam pemahaman intelegensi dan tes intelegensi. Revisi-revisi ini disebut Stanford-Binet. Tes ini kini dilakukan secara individual dari orang usia 2 tahun hingga dewasa. Tes ini memuat banyak item yang diantaranya memerlukan jawaban verbal dan non verbal. Edisi terbaru - keempat- dari Stanford-Binet ini mengalami penambahan penting yaitu analisis respons individual dari segi empat fungsi : penalaran verbal, penalaran kuantitatif, penalaran visual abstrak, dan memori jangka pendek. Tes Stanford-Binet masih menjadi salah satu tes yang paling banyak digunakan untuk menilai intelegensi murid.
by the way, ini gambaran hasil dari tes IQ yang pernah saya ikuti.. Ada aspek psikologis, belajar dan kepribadiannya..
Tipe-tipe Intelegensi
Ada banyak teori mengenai intelegensi ini. Diantaranya ada 8 jenis keahlian menurut Howard Gardner. Gardner percaya ada banyak tipe intelegensi spesifik atau kerangka pikiran, diantaranya :
- Keahlian verbal : Kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna
- Keahlian matematika : Kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika
- Keahlian spasial : Kemampuan untuk berpikir tiga dimensi
- Keahlian jasmani-kinestetik : Kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal fisik
- Keahlian musik : Sensitif terhadap nada, melodi, irama, dan suara
- Keahlian intrapersonal : Kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupannya secara efektif
- Keahlian interpersonal : Kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain
- Keahlian naturalis : Kemampuan untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia
Menurut Gardner, setiap orang memiliki keahlian-keahlian ini dengan tingkatan yang berbeda. Contohnya, kita cenderung belajar dan mengolah informasi dengan cara yang berbeda-beda. Orang akan belajar dengan baik ketika mereka melakukannya dalam cara yang sesuai dengan keahlian mereka yang menonjol.
Perbedaan Intelegensi
Seperti yang kita sadari, bahwa intelegensi setiap orang akan berbeda. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dalam membahas intelegensi, terdapat berbagai kontroversi. Diantaranya apakah faktor hereditas atau lingkungan, bawaan atau asuhan, yang akan lebih menentukan intelegensi.
Nature-Nuture adalah debat tentang apakah perkembangan dipengaruhi oleh nature (bawaan) atau nuture (lingkungan). Beberapa ilmuwan percaya bahwa faktor nature berpengaruh lebih besar dibandingkan dengan nuture. Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian terhadap korelasi nilai tes IQ dalam satu keluarga hasilnya adalah 0,5. Kemudian korelasi nilai tes IQ antara anak adopsi dengan orang tua kandungnya adalah 0,5 dan dengan orang tua angkatnya sekitar 0,1-0,2. DAri penelitian tersebut, kita bisa melihat bahwa faktor bawaan berpengaruh lebih besar terhadap intelegensi.
Dewasa ini, beberapa pakar juga percaya bahwa lingkungan juga berperan penting. Ini berarti memperkaya lingkungan anak dapat memperkaya intelegensi mereka. Dalam suatu penelitian, anak yang pindah ke dalam keluarga dengan lingkungan yang lebih baik dibandingkan dengan keluarga sebelumnya mengalami peningkatan IQ hingga 12 poin. Tentu saja, faktor lingkungan juga bersifat kompleks. Tumbuh dengan semua kemajuan dan kelebihan yang dimiliki tidak serta merta menjamin keberhasilan. Anak-anak dengan kebutuhan terpenuhi mungkin sering menganggap lalu kesempatan-kesempatan yang ada dan tidak termotivasi untuk berprestasi. Sebaliknya anak-anak dengan segala kekurangan fasilitas, malah termotivasi dan berhasil.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi sehingga mengakibatkan adanya perbedaan intelegensi seseorang dengan yang lainnya yaitu :
- Pembawaan : Ditentukan oleh sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan kita yakni dapat dan tidaknya memecahkan suatu soal atau masalah, pertama-tama ditentukan oleh pembawaan kita. Ada orang pintar dan ada pula yang bodoh, meskipun sama-sama menerima latihan dan pelajaran yang sama, tetapi perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada.
- Kematangan : Setiap organ di dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan, setiap organ ( fisik maupun psikis ) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing.
- Pembentukan : Segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
- Minat dan pembawaan yang khas : Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
Referensi :
- Santrock., J.W. (2010). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
- King, L.A. 2010. Psikologi Umum : sebuah pandangan apresiatif (buku 2). Jakarta : Salemba humanika
- Perbedaan individu dalam implikasi pembelajaran



Tidak ada komentar:
Posting Komentar