Pernahkah Anda melihat anak yang tidak bisa membaca? tapi tunggu dulu, kalau anak yang tidak bisa membaca karena tidak pernah diajari, itu hal biasa. Tapi bagaimana dengan anak yang mengalami kesulitan membaca ataupun mengeja walaupun sudah diajari berkali-kali?
Nah, pada postingan saya kali ini, saya akan membahas salah satu jenis ketidakmampuan belajar pada anak. Pernahkah Anda mendengar Disleksia atau dalam Bahasa Inggrisnya Dyslexia? Salah satu cirinya adalah seperti yang saya sebutkan diatas. Buat yang tidak pernah mendengarnya, pasti lumayan penasaran kan? Kenapa sih disleksia termasuk dalam ketidakmampuan belajar pada anak? Lalu kalau anak yang tidak bisa membaca bagaimana cara dia belajar dong? Apakah anak yang tidak bisa membaca itu dikarenakan memiliki IQ yang rendah?
Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi secara harafiah kata disleksia berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Disleksia adalah suatu kondisi ketidakmampuan belajar yang disebabkan oleh kesulitan dalam membaca dan mengeja. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.
Disleksia dikatakan sebagai gangguan belajar karena anak yang menderita disleksia seringkali sulit menulis dengan tangan, mengeja, atau menyusun kalimat. Mereka kadang menulis sangat lambat, tulisan yang buruk dan banyak terdapat kesalah ejaan karena ketidakmampuan mereka untuk menyesuaikan ejaan dengan bunyinya. Misalnya, bila disuruh menulis kata hari, besar kemungkinan merka akan menulis hri.
Disleksia bukan berarti IQ rendah atau keterbelakangan mental
Sering kali orang salah mempersepsikan anak yang lambat membaca, tidak bisa mengeja dan sebagainya sebagai anak yang tingkat intelegensinya rendah. Dalam dunia pendidikan, hal ini perlu diperhatikan. Kita untuk menyatakan seseorang dalam kriteria tertentu kita harus memiliki alasan yang jelas. Bila ada anak yang kesulitan dalam membaca bisa saja dia mengidap disleksia.
Berbeda dengan gangguan belajar biasa, kesulitan mengeja pada penyandang disleksia bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan. Biasanya pengidap disleksia memiliki IQ rata-rata atau bahkan diatas rata-rata. Jadi, ketidakmampuan pada disleksia bukan karena pengaruh intelegensi, melainkan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. IQ normal, di bawah rata-rata, atau justru superior; Albert Einstein dan Presiden Amerika Serikat ke-43 George Walker Bush adalah contoh penyandang disleksia.
Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar.
Penyandang disleksia juga punya sisi positif. Biasanya mereka memiliki kemampuan di bidang lain yang baik, bahkan melebihi rata-rata. Otak pengidap disleksia membaca dengan cara yang tak sama dengan mereka yang tak mengidap disleksia. Biasanya mereka memiliki keunggulan di bidang visual-spasial, kesadaran sosial, penyelesaian masalah, geometri, atau komputer.
Tanda-tanda pada Anak Disleksia
Karena sering terlambat diketahui, disleksia banyak memberi dampak pada masalah belajar di sekolah. Selain nilainya merosot, tak jarang penyandang disleksia mengalami tekanan psikologis karena tidak percaya diri atau bahkan menjadi korban kekerasan dari teman-teman sekolahnya. Sebenarnya tanda-tanda disleksia bisa dideteksi sejak usia dini, prasekolah atau bahkan sebelum anak belajar membaca. Oleh karena itu, perlu kesigapan orang tua untuk mendeteksi disleksia sejak dini.
- Kidal atau tidak terampil jika hanya menggunakan 1 tangan saja
- Bingung membedakan sisi kanan dan kiri
- Grusa-grusu atau tidak melakukan sesuatu tanpa terorganisir dan tergesa-gesa
- Miskin kosa kata, banyak menggunakan kata ganti 'ini-itu'
- Kesulitan memilih kosa kata yang tepat, misalnya 'kolam yang tebal' padahal maksudnya 'kolam yang dalam'.
- Kesulitan mempelajari huruf (bentuk dan bunyinya)
- Kesulitan menggabungkan huruf menjadi sebuah kata
- Kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay
- Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’
- Daya ingat jangka pendek yang buruk
- Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar
- Kesulitan memahami konsep waktu
- Kesulitan memegang alat tulis
- Kesulitan dalam diskriminasi visual
- Kesulitan dalam persepsi spatial
- Kesulitan mengingat nama-nama
- Kesulitan mengingat kata-kata
- Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan
- Kebingungan atas konsep alfabet dan simbol
- Kesulitan mengingat rutinitas aktivitas sehari hari
- Kesulitan / lambat mengerjakan PR
- Membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya:
o Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”).
o Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
o Tdak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
o Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)
o Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (”menulis” dibaca sebagai ”tulis”)
o Tdak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai
o Tertukar tukar kata (misalnya: dia-ada, sama-masa, lagu-gula, batu-buta, tanam-taman, dapat-padat, mana-nama)
Penanganan terhadap Anak Disleksia
Walaupun disleksia termasuk ketidakmampuan dalam belajar, anak disleksia tetap bisa belajar. Meski tidak bisa diobati, gangguan ini bisa diatasi dengan penanganan yang tepat. Ada 2 jenis penanganan untuk disleksia yakni :
- Remedial berarti mengulang-ulang materi belajar sampai benar-benar paham. Kadang-kadang pengulangan dilakukan untuk mempelajari kebutuhan penyandang disleksia, terkait cara yang bersangkutan dalam memahami suatu hal. Kalau biasanya anak normal mudah memahami huruf A dari bentuknya yang demikian, penyandang disleksia belum tentu seperti itu. Cara otak memahami sesuatu bisa berbeda, misalnya A dipahami sebagai sebuah bangun dengan sudut-sudut tertentu.
- Penanganan akomodasi, yakni memenuhi kebutuhan khusus penyandang disleksia. Misalnya yaitu ujian untuk penyandang disleksia bisa diberikan dengan waktu yang lebih longgar dan soalnya dicetak dengan huruf yang tidak terlalu rapat
Referensi:
- Santrock., J.W. (2010). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
- Wikipedia - Disleksia
- Ciri anak disleksia ketahuan sebelum membaca
- http://www.dyslexia-indonesia.org/





Tidak ada komentar:
Posting Komentar